KESESUAIAN FUNGSI KAWASAN DENGAN PEMANFAATAN LAHAN

KESESUAIAN FUNGSI KAWASAN DENGAN PEMANFAATAN LAHAN

DI DAERAH ALIRAN SUNGAI SAMIN

TAHUN 2007 1)

Oleh : Setya Nugraha 2)

ABSTRACT

The research conducted in the watershed of Samin is aimed to find out the function of the land area, the exploitation of the land, and the compatibility of the function of the land area with its exploitation. The research method applied in this research was survey method, by using land unit as the analysis unit.

The population was 152 land units. The samples were taken by using purposive sampling technique. The data were collected by direct field observation and from the documentation. The analysis technique of this research was descriptive qualitative.

The result of the research shows that the exploitation for rice field was 48,63 %, settlement was 25,02 %, plantation was 11,12 %, non-irrigated field was 11,07%, bushes was 3,90% and river was 0,23%. The function of the Samin watershed area land consists of 10, 05 % shelter area function, 33,44% local shelter area function, 5,03% buffer area function, 5,05% perennial plants cultivation area function, and 46,42% seasonal plants cultivation area function and settlement. The exploitations of the actual area of Samin watershed which were improper with the function of land area were 10,05% in shelter area, 33,44% in local shelter area, 3,82% in buffer area, and 4,32% in perennial plants cultivation area.

Kata Kunci: Fungsi Kawasan, Lahan, Daerah Aliran Sungai

PENDAHULUAN

Bencana ekologis pada setiap tahun melanda di wilayah Negara Indonesia antara lain bencana banjir, tanah longsor, amblesan dan kekeringan. Bencana tersebut menimbulkan kerugian berupa harta benda bahkan jiwa manusia. Faktor penyebab terjadinya bencana ekologis tersebut sangat komplek tetapi yang dominan disebabkan karena kegiatan manusia dalam pemanfaatan lahan.

Pada saat ini dinamika pemanfaatan lahan cenderung mengabaikan dampak menurunnya kualitas lingkungan hidup yang pada akhirnya akan mengakibatkan menurunnya daya dukung lahan. Oleh karena itu pemanfaatan lahan perlu diarahkan menurut fungsinya untuk menghindarkan dampak negatif dari pembangunan yang terus berjalan.

1). Diambil dari Penelitian Unggulan dengan Sumberdana DIPA UNS

2) Dosen Prodi Pendidikan Geografi Jurusan FKIP

Arahan fungsi pemanfaatan lahan yang merupakan salah satu bagian dari Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah harus mendasarkan pada satuan analisis secara alami yang biasanya menggunakan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai unit perencanaan sekaligus sebagai unit wilayah kerja kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. Nugraha, dkk (2006: 2) menyatakan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah “Suatu kawasan ekosistem yang dibatasi oleh topografi pemisah air (punggung-punggung bukit) dan berfungsi sebagai penampung, penyimpan dan penyalur air dalam sistem sungai dan keluar melalui satu outlet tunggal” (Nugraha, dkk 2006:2).

Wilayah DAS dengan berpedoman pada ekosistemnya dapat dibagi menjadi (1) sub sistem DAS bagian hulu (upland watershed), (2) sub sistem DAS bagian tengah (midland watershed), dan (3) sub sistem DAS bagian hilir atau pantai (lowland watershed). Masing-masing sub sistem DAS tersebut di atas mempunyai karakteristik (ciri khas) dan sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi) sendiri-sendiri, sehingga akan mempunyai daya dukung dan daya tampung lingkungan yang berbeda, akibatnya dalam usaha pengelolaan lingkungan harus disesuaikan dengan kondisi tersebut dan diikuti dengan tindakan dan pengambilan kebijakan yang mengikuti ciri khas dan potensi sumberdaya alam yang ada.

Ekosistem DAS bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Perubahan kawasan lindung menjadi kawasan budidaya di daerah hulu merupakan bukti meningkatnya permintaan akan lahan akibat dari cepatnya pertumbuhan penduduk, sehingga persediaan lahan yang sesuai untuk kawasan lindung semakin menyempit. Kondisi tersebut saat ini sedang terjadi di DAS Samin yang terletak di lereng barat Gunung Lawu yang termasuk wilayah Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo. Maraknya penebangan pohon secara liar di kawasan hutan lindung dan diikuti kegiatan perambahan lahan hutan untuk usaha budidaya tanaman semusim seperti wortel, bawang, sawi dan tanaman sayuran lainnya. Kegiatan tersebut tidak dapat dibenarkan karena melakukan penggunaan lahan secara intensif pada kawasan lindung.

Kondisi penggunaan lahan di DAS Samin pada saat ini seperti tersebut di atas apabila tidak segera diatasi, maka dikhawatirkan akan berdampak pada terganggunya ekosistem DAS serta timbulnya berbagai permasalahan seperti bertambahnya lahan kritis, meningkatnya bahaya erosi dan longsor lahan. Langkah awal dalam melaksanakan konservasi lahan di DAS Samin yaitu dengan melakukan evaluasi kesesuaian fungsi kawasan lahan dengan penggunaan lahan yang saat ini dilakukan oleh masyarkat dan pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan yang timbul adalah: (1) Bagaimana persebaran dan luas fungsi kawasan lahan yang ada di DAS Samin ?, (2) Bagaimana jenis dan persebaran penggunaan lahan yang terdapat di DAS Samin ?, dan (3) Bagaimana kesesuaian antara fungsi kawasan dengan penggunaan lahannya di DAS Samin?

Tujuan penelitian ini adalah:(1) Mengetahui persebaran dan luas fungsi kawasan lahan di DAS Samin, (2) Mengetahui jenis, luas dan persebaran penggunaan lahan yang terdapat di DAS Samin, (3) Mengetahui kesesuaian antara fungsi kawasan lahan dengan penggunaan lahan yang terdapat di DAS Samin. Manfaat dari penelitian ini untuk melakukan evaluasi dari penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah yang terdapat di DAS Samin.

Lahan

Lahan merupakan bagian dari bentangalam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik termasuk iklim, topografi/relief, hidrologi bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. (FAO dalam Djaenudin, dkk 1993: 3). Lebih lanjut dijelaskan bahwa lahan memiliki sifat atau karakteristik yang spesifik. Sifat-sifat lahan (land characteristics) adalah atribut atau keadaan unsur-unsur lahan yang dapat diukur atau diperkirakan, seperti tekstur tanah, struktur tanah, kedalaman tanah, jumlah curah hujan, distribusi hujan, temperatur, drainase tanah, jenis vegetasi dan sebagainya.

Penggunaan lahan (land use) diartikan sebagai setiap bentuk intervensi (campurtangan) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materiil maupun spirituil, (Arsyad, 1989: 207).

Fungsi Kawasan

UU RI No. 26 2007 menyebutkan bahwa Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan”. Fungsi utama kawasan lindung adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah. (Nugraha, dkk 2006: 62). Fungsi kawasan lindung ini selain melindungi kawasan setempat juga memberikan perlindungan kawasan di bawahnya. (Departemen Kehutanan, 1997: 233). Berdasarkan fungsinya tersebut maka penggunaan lahan yang diperbolehkan adalah pengolahan lahan dengan tanpa pengolahan tanah (zero tillage) dan dilarang melakukan penebangan vegetasi hutan. (Nugraha, dkk 2006: 69).

Kawasan penyangga adalah kawasan yang ditetapkan untuk menopang

keberadaan kawasan lindung sehingga fungsi lindungnya tetap terjaga.(Nugraha, dkk 2006: 62). Kawasan penyangga ini merupakan batas antara kawasan lindung dan kawasan budidaya. Penggunaan lahan yang diperbolehkan hutan tanaman rakyat atau kebun dengan sistem wanatani (agroforestry) dengan pengolahan lahan sangat minim (minimum tillage).

Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. (Nugraha, dkk 2006: 62). Kawasan budidaya dibedakan menjadi kawasan budidaya tanaman tahunan dan kawasan budidaya tanaman semusim.

Berikut ini adalah kriteria yang digunakan Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (BRLKT), Departemen Kehutanan untuk menentukan status kawasan berdasarkan fungsinya :

a. Kawasan Fungsi Lindung

Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga karakteristik fisiknya sama dengan atau lebih besar dari 175, atau memenuhi salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut :

1) Mempunyai kemiringan lereng lebih > 45 %

2) Merupakan kawasan yang mempunyai jenis tanah sangat peka terhadap erosi (regosol, litosol, organosol,dan renzina) dan mempunyai kemiringan lereng > 15%

3) Merupakan jalur pengaman aliran sungai sekurang-kurangnya 100 meter di kanan kiri alur sungai

4) Merupakan pelindung mataair, yaitu 200 meter dari pusat mataair.

5) Berada pada ketinggian lebih atau sama dengan 2.000 meter diatas permukaan laut.

6) Guna kepentingan khusus dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan lindung.

Dalam menetapkan kawasan lindung selain ditetapkan berdasarkan karakteristik lahannya, dapat juga ditetapkan berdasarkan nilai kepentingan obyek, dimana setiap orang dilarang melakukan penebangan hutan dan mengganggu serta merubah fungsinya sampai pada radius atau jarak yang telah ditentukan. Kawasan lindung yang ditetapkan berdasarkan keadaan tersebut diatas disebut sebagai kawasan lindung setempat. Kawasan lindung setempat yang dimaksud adalah :

1) Sempadan Sungai yaitu kawasan sepanjang kanan kiri sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Berdasarkan Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 ditetapkan bahwa sempadan sungai sekurang-kurangnya 100 meter di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan kiri anak sungai yang berada di luar permukiman. Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter.

2) Kawasan sekitar mataair yaitu kawasan disekeliling mataair yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi utama air. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/1980 ditetapkan bahwa pelindung mataair ditetapkan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekeliling mataair.

3) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yaitu tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai nilai tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. (Keputusan Presiden No. 32 tahun 1990). Tujuan perlindungan kawasan ini adalah untuk melindungi budaya kekayaan budaya bangsa berupa peninggalan sejarah, bangunan arkeologi dan monumen nasional dan keanekaragaman bentukan geologi yang berguma untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia.

b. Kawasan Fungsi Penyangga

Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga karakteristik fisiknya antara 125-174 serta memenuhi kriteria umum sebagai berikut :

1) Keadaan fisik satuan lahan memungkinkan untuk dilakukan budidaya.

2) Lokasinya secara ekonomis mudah dikembangkan sebagai kawasan penyangga.

3) Tidak merugikan segi-segi ekologi atau lingkungan hidup apabila dikembangkan sebagai kawasan penyangga.

c. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Tahunan

Satuan lahan dengan jumlah skor ketiga karakteristik fisiknya < 124 serta sesuai untuk dikembangkan usaha tani tanaman tahunan. Selain itu areal tersebut harus memenuhi kriteria umum untuk kawasan penyangga.

d. Kawasan Fungsi Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman

Satuan lahan dengan kriteria seperti dalam penetapan kawasan budidaya tanaman tahunan serta terletak di tanah milik, tanah adat dan tanah negara yang seharusnya dikembangkan usaha tani tanaman semusim. Selain memenuhi kreteria tersebut diatas, untuk kawasan permukiman harus berada pada lahan yang memiliki lereng mikro tidak lebih dari 8%.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Samin, yang secara administratif terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo serta meliputi 7 wilayah kecamatan. Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1:25.000 Tahun 2003 lembar 1508–132 Poncol, lembar 1508–131 Tawangmangu, lembar 1408-342 Jumantono, lembar 1408–344 Karanganyar, lembar 1408–341 Sukoharjo dan lembar 1408-343 Surakarta yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Nasional letak Daerah Aliran Sungai Samin secara astronomis berada diantara 7° 35′ 48″ LS – 7° 42′ 25″ LS dan 110° 48′ 03″ BT – 111° 11′ 22″ BT.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode survai. Melalui metode ini diadakan pengamatan dan pengukuran secara langsung di lapangan terhadap parameter-parameter yang dibutuhkan dalam penelitian ini yang berupa jenis tanah, solum tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan serta lokasi mataair dan situs purbakala yang selanjutnya dilakukan klasifikasi, analisis dan penilaian terhadap parameter-parameter tersebut.

Satuan analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis satuan lahan. Satuan lahan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil tumpangsusun peta geologi, peta kemiringan lereng, peta tanah dan peta penggunaan lahan. Dipilihnya satuan lahan sebagai satuan analisis karena setiap satuan lahan mencerminkan adanya pengaruh sifat batuan, tanah, lereng dan penggunaan lahan. Dengan menambahkan data curah hujan pada masing-masing satuan lahan, maka akan akan sangat membantu dalam melakukan analisis fungsi kawasan.

Dalam penelitian ini data primer diperoleh dengan melakukan observasi lapangan yang berupa : jenis tanah, solum tanah, kemiringan lereng, penggunaan lahan, lokasi mataair dan situs purbakala. Data sekunder yang digunakan yaitu: data penggunaan lahan, kemiringan lereng, jenis batuan, data curah hujan dan data sosial kependudukan.

Populasi dalam penelitian ini adalah lahan di Daerah Aliran Sungai Samin. Satuan analisis menggunakan satuan lahan yang merupakan gabungan dari beberapa karakteristik lahan yang sama sebagai hasil tumpangsusun (overlay) dari unsur batuan (peta geologi), topografi (peta lereng), tanah (peta tanah) dan penggunaan lahannya (peta penggunaan lahan). Berdasarkan tumpangsusun dari beberapa peta tersebut diatas diperoleh 152 satuan lahan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive Sampling.

Analisis data secara diskriptif kualitatif yang meliputi: (1) Analisis persebaran dan luas fungsi kawasan lahan di DAS Samin diketahui dengan menggunakan kriteria BRLKT, (2) Analisis jenis, luas dan persebaran penggunaan lahan yang terdapat di DAS Samin dengan menggunakan Penggunaan Lahan dan hasil pengamatan lapangan, dan (3) Analisis kesesuaian antara fungsi kawasan lahan dengan penggunaan lahan yang terdapat di DAS Samin dengan melakukan pencocokan (matching) antara peta penggunaan lahan dengan peta fungsi kawasan. Analisis keruangan yang dilakukan dengan mengunakan bantuan Sistem Informasi Geografis (SIG).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Klasifikasi penggunaan lahan DAS Samin meliputi :

a) Permukiman, yaitu lahan yang digunakan untuk bangunan tempat tinggal dan pekarangan (termasuk tanaman) dan sarana umum seperti kantor, sekolah, gedung ibadah, lapangan olahraga, pasar, dan terminal. Luas penggunaan lahan ini adalah 81.019.867,413 m2 atau 25,02 persen dari total penggunaan lahan daerah penelitian.

b) Perkebunan/Kebun, adalah lahan yang ditanami petani dengan berbagai macam tanaman tahunan, dan atau buah-buahan. Jenis tanaman yang banyak diusahakan di daerah penelitian antara lain cengkeh, kopi dan karet. Luas penggunaan lahan ini adalah 36.010.357,494 m2 atau 11,12 persen dari total penggunaan lahan daerah penelitian.

c) Sawah, adalah lahan budidaya pertanian yang biasanya ditanami padi, yang mendapat air pengairan teknis maupun non teknis. Lahan berpengairan teknis umumnya ditanami padi secara terus menerus satu dua atau tiga kali setahun, sedangkan yang tidak berpengairan teknis hanya satu kali dalam setahun dan pada musim kering lahan ini ditanami polowijo seperti jagung, kedelai, dan kacang tanah. Sawah merupakan penggunaan lahan yang mayoritas di daerah penelitian yaitu seluas 157.458.496,911m2 atau 48,63 persen dari total penggunaan lahan daerah penelitian.

d) Semak Belukar, adalah lahan yang ditumbuhi vegetasi alami seperti alang-alang dan pakis yang bercampur dengan vegetasi yang lebih besar seperti kayu dan sirih-sirihan. Luas penggunaan lahan ini adalah 12.662.485,392m2 atau 3,90 persen dari total penggunaan lahan daerah penelitian.

e) Sungai, adalah lahan berair yang membentuk saluran yang airnya mengalir sepanjang tahun dan atau hanya mengalir pada saat musim penghujan saja. Luas penggunaan lahan ini adalah 787.310,377m2 atau 0,23 persen dari total penggunaan lahan daerah penelitian.

f) Tegalan/Ladang, adalah lahan usaha tani yang ditanami tanaman pangan atau sayuran. Jenis komoditas yang banyak ditanam petani adalah bawang, wortel, buncis, kacang kapri, cabe, ubi jalar dan ketela pohon. Luas penggunaan lahan ini adalah 35.849.352,301m2 atau 11,07 persen dari total penggunaan lahan daerah penelitian.

Luas masing-masing penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel 20. di bawah ini.

Tabel 1. Bentuk Penggunaan Lahan DAS Samin

No.

Bentuk Penggunaan Lahan

Luas

m2

%

1.

Permukiman

81.019.867,413

25,02

2.

Perkebunan/Kebun

36.010.357,494

11,12

3.

Sawah

157.458.496,911

48,63

4.

Semak Belukar

12.662.485,392

3,90

5.

Sungai

787.310,377

0,23

6.

Tegalan/Ladang

35.849.352,301

11,07

Total

323.787.869,89

100,00

Sumber : Peta Penggunaan Lahan DAS Samin

Berdasarkan hasil skoring berdasarkan kriteria penilaian BRLKT maka fungsi kawasan lahan di DAS Samin dapat dibedakan menjadi 3 fungsi kawasan, yaitu kawasan lindung (KL), terdiri dari kawasan lindung yang ditetapkan berdasarkan skoring dan kawasan lindung yang ditentukan berdasarkan nilai kepentingan obyek atau dikenal dengan istilah kawasan lindung setempat (KLS), kawasan penyangga (KP), kawasan budidaya tanaman tahunan (KBTT) dan kawasan budidaya tanaman semusim dan permukiman (KBTS). Deskripsi masing-masing fungsi kawasan lahan DAS Samin adalah sebagai berikut :

a. Fungsi Kawasan Lindung (KL)

Fungsi utama kawasan lindung DAS Samin adalah sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, antara lain mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah.

Berdasarkan karakteristiknya, lahan di kawasan lindung DAS Samin mudah tererosi dan rentan terjadi longsor lahan karena berada pada kemiringan lereng klas IV (25%-45%) sampai pada kemiringan lereng kelas V (≥45%). Luas lahan fungsi kawasan lindung di DAS Samin sebesar 3.254,21 ha (10,05%), yang banyak tersebar pada lahan-lahan di Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Jatiyoso dan sebagian kecil Kecamatan Matesih. Data selengkapnya mengenai kawasan lindung DAS Samin dapat dilihat pada lampiran 5.

b. Fungsi Kawasan Lindung Setempat (KLS)

Lokasi yang ditetapkan sebagai kawasan lindung setempat dalam penelitian ini adalah :

1) Sempadan sungai luasannya 100 meter di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan kiri anak sungai yang berada di luar permukiman. Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 meter, lokasinya berada pada seluruh alur sungai di DAS Samin.

2) Merupakan pelindung mataair, luasannya ditetapkan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter dari pusat mataair. Luasnya dihitung pada seluruh titik mataair yang berada diluar kawasan lindung yang telah ditetapkan berdasarkan skoring

3) Situs purbakala, berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar di DAS Samin terdapat tiga situs purbakala yaitu Situs Purbakala Giyanti di Kelurahan Jantiharjo Kecamatan Karanganyar, Situs Purbakala Watu Kandang di Desa Koripan Kecamatan Matesih, Situs Purbakala Menggung di Kelurahan Tawangmangu Kecamatan Tawangmangu. Luas keseluruhan dari kawasan lindung setempat DAS Samin adalah 10.826,60 ha atau 33,44% dari luas seluruh penggunaan lahan DAS Samin.

c. Fungsi Kawasan Penyangga (KP)

Di DAS Samin kawasan penyangga mempunyai luas 1.629,93 ha atau 5,03% dari luas keseluruhan DAS. Sebaran kawasan penyangga mayoritas terdapat pada lahan yang mempunyai kemiringan lereng kelas IV (25%-45%) walupun ada yang berada pada kemiringan lereng kelas III (15%-25%) dan kemiringan lereng II (8%-15%) dengan mayoritas jenis tanah andosol. Secara administratif kawasan penyangga DAS Samin sebagian besar berada di Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Matesih, sedangkan sebagian kecil lainnya tersebar di Kecamatan Jumantono, Kecamatan Jumapolo, Kecamatan Jatiyoso, Kecamatan Karanganyar dan Kecamatan Polokarto.

d. Fungsi Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan (KBTT)

Fungsi Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan (KBTT) DAS Samin mempunyai luas 1.636,64 ha atau 5,05% dari seluruh luas DAS Samin. Sebagian besar terdapat pada lahan yang mempunyai kemiringan lereng kelas II (8% – 15%) dan sebagian yang lain pada kemiringan lereng kelas III (15%-25%). Secara administratif persebaran kawasan budidaya tanaman tahunan di DAS Samin banyak tersebar di Kecamatan Jatiyoso, Kecamatan Jumantono, Kecamatan Jumapolo, dan sebagian kecil Kecamatan Polokarto, Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Bendosari, Kecamatan Matesih, dan Kecamatan Karanganyar.

e. Fungsi Kawasan Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman (KBTS)

Fungsi Kawasan Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman (KBTS) DAS Samin mempunyai luas terbesar yaitu 15.031,40 ha atau 46,42% dari luas total DAS Samin. Sebarannya banyak terdapat pada lahan yang mempunyai kemiringan lereng kelas I (0% – 8%) yang sebagian besar terletak di bagian hilir DAS Samin yang secara administratif lebih banyak terletak di Kecamatan Grogol, Kecamatan Sukoharjo, Kecamatan Mojolaban, Kecamatan Polokarto Kecamatan Bendosari dan Kecamatan Karanganyar, serta sebagian kecil lainnya tersebar merata pada setiap kecamatan yang berada di DAS Samin. Kawasan budidaya tanaman semusim dan permukiman DAS Samin merupakan konsentrasi permukiman penduduk serta banyak diusahakan untuk penggunaan lahan sawah.

Setelah diketahui fungsi kawasan lahan DAS Samin, tahap selanjutnya adalah melakukan evaluasi kecocokan antara penggunaan lahan aktual dengan fungsi kawasan lahan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui panggunaan lahan aktual DAS Samin yang tidak sesuai dengan fungsi utama kawasannya dan selanjutnya dapat ditentukan arahan fungsi pemanfaatan lahan. Berpedoman pada matrik penilaian tersebut maka diketahui satuan lahan yang penggunaan lahan aktualnya tidak sesuai dengan fungsi utama kawasannya yaitu sebagai berikut :

a. Kawasan Lindung

Penggunaan lahan yang diperbolehkan pada kawasan ini seharusnya adalah pengolahan lahan dengan tanpa pengolahan tanah (zero tillage) dan dilarang melakukan penebangan vegetasi hutan. Namun pada kenyataannya di lapangan masih banyak dijumpai pengolahan tanaman semusim untuk tanaman sayuran. Penggunaan lahan aktual yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lahan pada kawasan lindung mencapai 3.254,21 ha (10,05%), dari seluruh penggunaan lahan DAS Samin, artinya seluruh penggunaan lahan di kawasan lindung DAS Samin tidak sesuai dengan fungsi utama kawasannya. Secara administratif penyimpangan penggunaan lahan ini banyak terdapat di Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Jatiyoso dan sebagian kecil Kecamatan matesih. Penyimpangan penggunaan lahan aktual pada kawasan lindung DAS Samin adalah berupa semak belukar, kebun, tegalan, serta sisanya berupa permukiman dan sawah.

Penggunaan lahan aktual pada kawasan lindung setempat DAS Samin belum mencerminkan adanya pemanfaatan lahan yang sesuai dengan fungsi kawasan lahan. Salah satu contohnya adalah penggunaan lahan sawah atau tanaman semusim lainnya yang diusahakan di sekitar alur sungai, padahal seharusnya lahan tersebut harus dimanfaatkan sebagai jalur pengaman sungai dengan tanaman perlindungan sungai, hal serupa juga terjadi pada kawasan di sekitar mataair yang digunakan untuk lahan persawahan. Penggunaan lahan aktual yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lahan pada kawasan lindung setempat adalah 10.826,60 ha atau 33,44% dari seluruh luas penggunaan lahan DAS Samin.

b. Kawasan Penyangga

Penggunaan lahan yang diperbolehkan pada kawasan ini adalah kebun dengan pengolahan lahan sangat minim (minimum tillage) atau dengan sistem pertanain hutan (agroforestry). Namun kenyataannya di lapangan masih banyak dijumpai persawahan dan tegalan yang banyak ditanami jenis sayuran sehingga fungsi lahannya tidak terpenuhi yang mengakibatkan terjadinya degradasi lahan akibat proses erosi dan longsor lahan. Kegiatan pengolahan lahan secara intensif ini disebabkan oleh ketersediaan air yang mencukupi sepanjang tahun dan pengolahan lahannya sangat mudah.

Penggunaan lahan aktual yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lahan pada kawasan penyangga adalah seluas 1.237,77 ha atau 3,82% dari seluruh penggunaan lahan DAS Samin, secara administratif penyimpangan penggunaan lahan ini terjadi di sebagian besar Kecamatan Tawangmangu dan Kecamatan Matesih, serta sebagian kecil di Kecamatan Jumantono, Kecamatan Jatiyoso, dan Kecamatan Jumapolo. Penyimpangan penggunaan lahan aktual terhadap fungsi kawasan lahan pada kawasan penyangga DAS Samin adalah berupa tegalan, pemukiman, sawah dan sisanya berupa semak belukar.

c. Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan

Penggunaan lahan yang dianjurkan pada kawasan budidaya tanaman tahunan adalah untuk perkebunan dan tanaman budidaya tahunan lainnya, tetapi kenyataan di lapangan masih dijumpai penggunaan lahan untuk sawah, tegalan dan permukiman. Biasanya penggunaan lahan untuk kebun letaknya berdampingan dengan penggunaan lahan untuk sawah dan permukiman.

Penggunaan lahan aktual yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lahan pada kawasan budidaya tanaman tahunan adalah seluas 1.400,31 ha atau 4,32% dari seluruh luas penggunaan lahan DAS Samin, secara administratif penyimpangan penggunaan lahan ini sebagian besar berada di Kecamatan Jumapolo, Kecamatan Jatiyoso dan Kecamatan Jumantono serta sebagian kecil Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Matesih, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Polokarto dan Kecamatan Bendosari. Penyimpangan penggunaan lahan aktual pada kawasan ini berupa pemukiman, sawah dan tegalan.

d. Kawasan Budidaya Tanaman Semusim dan Permukiman

Penggunaan lahan pada kawasan ini dapat digunakan secara intensif untuk dilakukan pengolahan lahan dan kondisi lereng mikronya memenuhi syarat untuk lokasi permukiman. Saat ini jenis penggunaan lahan pada kawasan budidaya tanaman semusim dan permukiman DAS Samin secara umum dapat dikategorikan sudah sesuai dengan fungsi kawasan lahan, artinya pada kawasan budidaya tanaman semusim dan permukiman tidak ada penyimpangan penggunaan lahan aktual terhadap fungsi kawasan lahan.

Secara keseluruhan, penggunaan lahan aktual yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lahan di DAS Samin sebagian besar berupa sawah yaitu 7.897,43 ha atau 24,39% dari seluruh penggunaan lahan di daerah penelitian. Selanjutnya diikuti berturut-turut tegalan sebesar 4.735,5 ha atau 14,63% dari total seluruh penggunaan lahan di daerah penelitian, kebun sebesar 1.843,97 ha atau 5,7% dari total, pemukiman sebesar 1.329,36 ha atau 4,11% dari total dan semak belukar sebesar 912,63 ha atau 2,82% dari total seluruh penggunaan lahan di daerah penelitian.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :

1. Luas penggunaan sawah 15.745,8 Ha (48,63 %), permukiman 8.101,9 Ha (25,02 %), perkebunan 3.601,0 Ha (11,12%), tegalan 3.584,9 Ha (11,07%), semak belukar 1.266,3 Ha (3,90%) dan sungai 78,7 Ha (0,23%).

2. Fungsi kawasan lahan DAS Samin terdiri dari fungsi kawasan lindung luasnya 3.254,21 ha (10,05%), fungsi kawasan lindung setempat 10.826,60 ha (33,44%), fungsi kawasan penyangga 1.629,93 ha (5,03%), fungsi kawasan budidaya tanaman tahunan 1.636,64 ha (5,05%), fungsi kawasan budidaya tanaman semusim dan permukiman 15.031,40 ha (46,42%).

3. Penggunaan lahan aktual DAS Samin yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lahan pada kawasan lindung sebesar 3.254,21 ha (10,05%), kawasan lindung setempat 10.826,60 ha (33,44%), kawasan penyangga 1.237,77 ha (3,82%) kawasan budidaya tanaman tahunan 1.400,31 ha (4,32%)

Saran

Di DAS Samin penyimpangan penggunaan lahan pada fungsi kawasannya sangat besar. Kenyataan ini sebagai salah satu sebab timbulnya bencana erosi, tanah longsor, kekeringan dan lahan kritis. Berkaitan dengan kondisi tersebut maka:

1. Pemerintah dapat dengan segera menyusun program dan pelaksanaan kegiatan terutama untuk mengurangi penyimpangan penggunaan lahan pada kawasan lindung dan penyangga.

2. Masyarakat khususnya para petani diharapkan untuk mengelola lahan secara bijak dan tetap memperhatikan kaidah konservasi tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bandung : Penerbit ITB.

Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Bemmelen, R.W. van. 1968. Geologi Indonesia Jilid 1A, Geologi Umum Bab 1. Terjemahan D.W. Puspokusumo & Al. Sukohardi. Yogyakarta : Tjepta

Darmawijaya, Isa. 1990. Klasifikasi Tanah. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

_________________________1998. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Daerah Aliran Sungai. Jakarta : Direktorat Jendral Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan.

Djaenudin, Basuni, Nugroho, K., Anda, M., Sutrisno, U.1993. Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan. Bogor : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

Handoko. 1995. Klimatologi Dasar Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan Unsur-Unsur Iklim. Jakarta : Dunia Pustaka Jaya.

Kartasapoetra A.G, G Kartasapoetra, Mulyani Sutedja. 1987. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta : Rineka Cipta.

Luntungan, J. N. 1998. Arahan Pemanfaatan Lahan Menggunakan Data Penginderaan Jauh Digtal Landsat TM dan Sistem Informasi Geografis di DAS Tondano Hulu Sulawesi Utara. Tesis. Yogyakarta : Program Pasca Sarjana UGM.

Malingreau, JP. 1977. A Proposed Land Cover / Land Use Classification and Its Use With Remote Sensing. Journal of Geography, volume VII bulan Juli. Jogjakarta : Universitas Gadjah Mada.

Malingreau, JP. & Rosalia Christiani. 1982. A land cover / land use classification for Indonesia. Yogyakarta : PUSPICS UGM.

Masfu, T. M. 2005. Penentuan Arahan Fungsi Pemanfaatan Lahan di Kecamatan Baturaden Kabupaten Banyumas Propinsi Jawa Tengah. Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS.

Moleong, L. J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Nugraha, Setya. 1997. Studi Morfokonservasi DAS Nagung Kabupaten Kulonprogo DIY. Tesis. Yoyakarta : Program Pasca Sarjana UGM.

Nugraha, S., Sudarwanto, S., Sutirto, T.W., Sulastoro. 2006. Potensi dan Tingkat Kerusakan Sumberdaya Lahan di Daerah Aliran Sungai Samin Kabupaten Kranganyar dan Sukoharjo Propinsi Jawa Tengah Tahun 2006. Laporan Penelitian. Surakarta : LPPM UNS.

Pannekoek, A.J. 1989. Garis Besar Geomorfologi Pulau Jawa. Terjemahan Budio Basri. Jakarta : FM-IPA UI

Prahasta, Eddy. 2002. Konsep-Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis. Bandung : Informatika.

Suripin. 2004. Pelestarian Sumberdaya Tanah dan Air. Yogyakarta : ANDI Offset.

Tika, M. P. 1997. Metode Penelitian Geografi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.www.portalhr.com/gudang/regulasi/No%2024%20Tahun%202007%20 Tentang %20Penataan%20Ruang.pdf.

Zuidam, RA van. And Zuidam – Cancelado, F. I. van. 1979. Terrain Analysis and Classification Using Aerial Photographs. Enschede : ITC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: